Seorang tukang becak lahap sekali menyantap semangkok mie, keringatnya bercucuran, nikmat sekali kelihatannya. Ku perhatikan dia bersama teman2nya asyik bercengkrama sambil makan dibalik kaca mobilku yang sejuk karena AC, yang sedang parkir di depan kantor tempat ku bekerja. Wajah mereka ceria menandakan bahwa mereka sangat menikmati.
Aku memandang dg lirih, hatiku pedih. Dalam hati aku berkata bahwa aku bukan sombong tapi mampu membeli mie segerobak, bahkan membeli pabrik mie sekalian, insya' Allah aku bisa. Tetapi apa hendak dikata Aku gak bisa makan mie walau sesendok, dokter melarangku karena aku sakit gagal ginjal yang sebentar lagi cuci darah atau ada yg menyarankan ke Cina transpalantasi ginjal yang biayanya akan ditanggung oleh kantor.
Aku takut transplantasi, aku cemas melihat hidup ini, aku terbayang2 betapa tukang becak dengan lahapnya menikmati mie. Akhirnya aku menyadari bahwa Allah Maha Adil dan hidup ini penuh mistery, dan apa artinya bagiku kekayaan harta di saat seperti ini ?
(Demikian ungkapan lirih dari sahabat ku sebulan sebelum dia menghembuskan nafas terakhir, semoga Allah mengampuni dosa2nya dan menerima amal ibadahnya, Amin)
Rabu, 04 Maret 2009
Iman yg turun naik
Sebenarnya Allah selalu berbicara kepada makhluknya melalui sign atau ayat Nya terutama kepada manusia yg telah diangkatnya sebagai Khalifah (wakil) di bumi persada ini.
Tetapi apakah manusia dapat selalu menangkap signal2/ayat2 Tuhan ?
Inilah yg menjadi pertanyaan mendasar dalam memformulasikan tingkat ketaqwaan manusia kpd Khaliknya. Kalau saja manusia selalu dan bisa menangkap signal tsb. maka itu suatu hidayah, akan tetapi banyak di antara hambanya yg belum bisa menangkap signal/ayat tsb., sehingga tidak tahu mau kemana arah hidup ini dan bahkan tidak tahu apa arti hidup ini.
Kenapa demikian ?
Hal ini karena gelombang dan frequensinya tidak tune in dengan frequensi dan gelombang Sang Khalik, mungkin disebabkan karena antena yg dipakai tidak diarahkan kepada sumber atau mungkin karena antene nya sudah karatan, sehingga sulit sekali menangkap signal tsb.
Suatu kewajiban bagi manusia agar selalu merawat antenenya dan mengarahkannya kepada sumber yg Haq agar selalu tune in.
Rasulullah mengatakan bahwa iman hambanya berfluktuatif, naik dan terkadang turun (yazid dan yanqus).Istiqomah dalam mememelihara gelombang kita agar sama adalah dengan berzikir di samping ibadah yg wajib, zikir bukan hanya menyebut bacaan tertentu tetapi melaksanakan shalat tahajud, shalat dhuha, membaca, berdiskusi, bermuamalah dg mau'izah hasanah akan mengikis karat2 antene kita. Betulkah, wallahu a'lam bisshawab
Tetapi apakah manusia dapat selalu menangkap signal2/ayat2 Tuhan ?
Inilah yg menjadi pertanyaan mendasar dalam memformulasikan tingkat ketaqwaan manusia kpd Khaliknya. Kalau saja manusia selalu dan bisa menangkap signal tsb. maka itu suatu hidayah, akan tetapi banyak di antara hambanya yg belum bisa menangkap signal/ayat tsb., sehingga tidak tahu mau kemana arah hidup ini dan bahkan tidak tahu apa arti hidup ini.
Kenapa demikian ?
Hal ini karena gelombang dan frequensinya tidak tune in dengan frequensi dan gelombang Sang Khalik, mungkin disebabkan karena antena yg dipakai tidak diarahkan kepada sumber atau mungkin karena antene nya sudah karatan, sehingga sulit sekali menangkap signal tsb.
Suatu kewajiban bagi manusia agar selalu merawat antenenya dan mengarahkannya kepada sumber yg Haq agar selalu tune in.
Rasulullah mengatakan bahwa iman hambanya berfluktuatif, naik dan terkadang turun (yazid dan yanqus).Istiqomah dalam mememelihara gelombang kita agar sama adalah dengan berzikir di samping ibadah yg wajib, zikir bukan hanya menyebut bacaan tertentu tetapi melaksanakan shalat tahajud, shalat dhuha, membaca, berdiskusi, bermuamalah dg mau'izah hasanah akan mengikis karat2 antene kita. Betulkah, wallahu a'lam bisshawab
Label:
kontemplatif,
spritual.sufi. tasawuf,
sufi. tasawuf,
tasawuf,
tobat,
zuhud
Langgan:
Entri (Atom)


