Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.
Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.
Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.
Kisah pada saat pasca kematian
Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar.
Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.
Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.



2 komentar:
Kisah Syekh Siti Jenar sampai sekarang masih menjadi teka teki bagi kebanyakan orang. Benarkah sosok Syekh Siti Jenar ada dalam wujudnya sebagai manusia dan hidup di zaman para Walisanga ? Benarkah makamnya ada di Jepara Jawa Tengah ?
Sebenarnya cerita Syekh Siti Jenar adalah tajassudil makna atau masal atau perumpamaan.
Masal adalah perumpamaan, untuk memudahkan menerima keterangan-keterangan yang sulit.
Banyak keterangan yang bersifat rahasia yang terkandung di dalam kisah Syekh Siti Jenar.
Arti kata "Syekh Siti Jenar" :
Kata "syekh" dapat diartikan menurut bahasa dan juga dapat diartikan menurut istilah.
Menurut bahasa, kata "syekh" adalah setiap orang yang sudah berumur lebih dari 40 tahun, itu dinamakan syekh baik orang itu mukmin atau orang itu kafir.
Menurut istilah, kata "syekh" adalah setiap orang yang mempunyai ilmu hakekat, walaupun orang itu berusia sebelum 40 tahun.
Kata "siti" berarti "isinya hati". Tempatnya di dalam hati, bukan di bibir atau lesan.
Kata "jenar" itu artinya kuning. Kuning itu menggembirakan.
Siti Jenar berarti isinya hati yang kuning (yang menggembirakan).
Di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 69 : ... "Kuning warnanya, menggembirakan hati orang-orang yang melihatnya".
Maksudnya cerita Syekh Siti Jenar itu adalah peringatan supaya kita jangan sembrono meletakkan ilmu haq. Karena salah meletakkan ilmu haq itu adalah seperti mengalungkan berlian pada lehernya celeng/babi. Celeng itu meskipun dikalungi dengan berlian, tetap tidak akan mulia.
Dalam Kitab Jamius Shaghir Bab huruf Tha hal 194 ada sebuah hadits yang bunyinya : Bersabda Rasulullah SAW : "Tiap-tiap orang muslim yang meletakkan ilmu bukan pada ahlinya laksana mengalungkan permata berlian dan mutiara serta emas di lehernya celeng" (An Anas, Rowahu Ibnu Majjah).
Jadi kesimpulannya : Orang yang namanya Syekh Siti Jenar dan hidup di zaman Walisanga itu sebenarnya tidak ada. Itu hanyalah sebagai lambang akan bahayanya meletakkan ilmu haq tidak pada tempatnya.
Lambang itu kemudian dijasadkan agar mudah diterima. Itulah yang dinamakan Tajassudil Makna. Seandainya percaya bahwa Siti Jenar itu ada, pasti akan sesat.
Yang bisa saya tambahkan bahwa kata Siti mungkin diambil dari kata Saidati, padanan dari Saidina
Terimakasih komentar Anda telah mengunjungi Blog ini semoga bisa kita jadikan sebagai penyambung silaturrahim dan forum mujadalah bil hikmah wal mauizah
Poskan Komentar