Senin, 07 Juli 2008

Tobat Nasuha


Para ustaz berdoa agar diterima tobat hambaNya dan dalam ceramah menganjurkan kepada ummat agar bertobat dengan tobat nasuha. Akan tetapi tidak dijelaskan apa dan bagaimana tobat nasuha tersebut. Mari dikaji lebih dulu perintah Tuhan agar manusia bertobat yang dijumpai dalam banyak ayat alQur’an dan Hadis-hadis nabi. Tobat yang diingin Tuhan adalah tobat yang sungguh-sungguh, yang disebut dengan tobat nasuha, yakni tobat tanpa lagi kembali kepada kesalahan atau kekeliruan yang sebelumnya diperbuat. Setiap tobat yang sungguh-sungguh dari dosa sebesar apapun, niscaya disambut oleh Tuhan dengan perasaan senang, karena Ia Zat penerima tobat dan senang kepada orang yang terus menerus bertobat (al Qur’an 9:104 dan 2:222). Selanjutnya Tobat itu memiliki taraf-taraf yang berbeda. Ada tobat dari dosa besar, ada tobat dari dosa kecil, dan ada tobat dari perbuatan atau sikap yang sudah baik 1)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.: Ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sungguh Allah akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya yang beriman daripada seseorang yang berada di tanah tandus yang berbahaya bersama hewan tunggangan yang membawa bekal makanan dan minumannya. Lalu dia tidur kemudian ketika bangun didapati hewan tunggangannya tersebut telah menghilang. Dia pun segera mencarinya sampai merasa dahaga kemudian dia berkata dalam hatinya: Sebaiknya saya kembali ke tempat semula dan tidur di sana sampai saya mati. Lalu dia tidur dengan menyandarkan kepalanya di atas lengan sampai mati. Tetapi ketika ia terbangun didapatinya hewan tunggangannya telah berada di sisinya bersama bekal makanan dan minuman. Allah lebih senang dengan tobat seorang hamba mukmin, daripada orang semacam ini yang menemukan kembali hewan tunggangan dan bekalnya 2)

Bertobat sebuah keasadaran yang muncul dari kognisi kearifan, dalam tataran transendental, yang mencangkup semua tataran eksistensi. Kognisi kearifan adalah kognisi tentang Tuhan. Ini sama dengan menyaksikan keagungan Wajah Illahi; dengan kata lain, mengenali Tuhan Maha Agung melalui esensi illahiah-Nya dan, dengan pengetahuan yang pasti, membuktikan bahwa segala sesuatu berada di bawah perintah-Nya. 3) Sebuah fenomena tobat, dan bagi seorang sufi tercermin dengan cahaya Illahiah dalam qalbunya.

1) Ensikolopodi Islam Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1992.

2) www.al-islam.com, 7 Juli 2008.

3) Lynn Wilcox, Ilmu Jiwa berjumpa Tasawuf,(terjemahan), Serambi, Jakarta, 2003

0 komentar:

Custom Search