Kehidupan model zuhud, menurut Alwi Shihab, kemudian berkembang pada abad ke 3 H, ketika kaum sufi mulai memperhatikan aspek-aspek teoritis psikologis dalam rangka pembentukan prilaku hingga tasawuf menjadi sebuah ilmu akhlak keagamaan. Pada abad ke 3 dan ke 4 H tokoh tasawuf seperti al Junaid dan al Sari al Saqathi serta al Karraz yang memberika pengajaran dan pendidikan kepada murid dalam sebuah bentuk jamaah. Untuk pertama kali da;lam Islam terbentu tarekat yang kala itu merupakan semacam lembaga pendidikan yang memberikan pengajaran tata cara kehidupan sufistik, baik teori maupun praktek kepada murid dan orang-orang yang berhasrat memasuki dunia tasawuf. Pada priode ini muncul baru tasawuf yang diperkenalkan al Husain ibn Manshur al Hallaj yang dihukum mati akibat dokrin al hululnya pada tahun 309 H. Selanjutnya Syiham menjelaskan pada abad k 5 H Al Gahzali tampil menentang jenis-jenis tasawuf yang tidak sesuai dengan Al Quran danSunnah dalam sebuah upaya mengembalikan tasawuf kestatus semula sebagai jalan hidup zuhud, Pendidikan jiwa dan pembentukan moral. Pemikiran al Gazali dalam bidang tasawuf dan makrifat sedemikian mendalam dan belum pernah dikenal sebelumnya.. Dia mengajukan kritik terhadap pemikiran filsafat dan mu’tazilah. 1)
Sesudah mempelajari berbagai rahasia dalam tasawuf, Al Gazali menulis kitab-kitab seperti al Munqiz min adh Dhalal, (Penyelamat dari kesesatan), Miskat al Anwar ( Relung cahaya-cahaya), dan Ihya Ulum ad Din (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama) serta menyelami lebih dalam lagi misteri-misteri kauf Sufi dan mengkaji berbagai masalah dalam tasawuf, umpamanya saja masalah Kesatuan Wujud, audisi (sma’) dan sebagainya. Sebagian rekan sezamannya mengecam pandangannya habis-habisan, dan sebagian lagi mala mencap Al Gazali sebagai seorang kafir 2),
Demikian dalam perkembangannya para ahli tasawuf juga tidak terlepas dari pergulatan pemikiran. Akan tetapi pada hakikatnya semuanya itu adalah sebuah jalan panjang yang berliku dan terkadang sangat terjal dalam pencaharian “Yang Ada””. Karena bagaimanapun manusia menurut Kartanegara, manusia mempunyai dua rumah, satu rumah jasadnya, yaitu dunia rendah ini, yang lain rumah rohnya, yaitu alam yang tinggi. Tetapi karena hakikat manusia terletak pada rohnya, maka manusia merasa terasing di dunia ini, karena alam rohanilah tempat roh atau jiwa yang sesungguhnya. 3)
1) Alwi Shihab, Islam Sufistik, Mizan, Bandung, 2001.
2) Mir Valiudiin, Zikir & Kontemplasi Tasauf, Pustaka Hidayah, Bandung, 1996.
3) Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Erlangga, Jakarta, 2006.



1 komentar:
Please visit us at http://airsetitik.co.cc or http://airsetitik.tk
Poskan Komentar